Feeds:
Pos
Komentar

Apa itu Pupuk Organik ABG?

ABG merupakan KONSENTRAT ORGANIK dan NUTRISI TANAMAN hasil ekstraksi secara mikrobiologis melalui proses fermentasi berbagai bahan organik berkualitas tinggi(ikan, ternak dan tanaman), mengandung :

1. senyawa bioaktif (plant growth promoting agent, asam-asam amino, enzim),

2. Mikroba menguntungkan (pengurai, penambat N, pelarut fosfat dan penghasil fitohormon) dan

3. Diperkaya dengan hara esensil.

Dengan kandungan yang dimiliki, maka ABG akan mampu :

• Menghidupkan tanah (Suplai Ekstrak organik)

• Memasok nutrisi (hara lengkap) dalam waktu singkat

• Memacu pertumbuhan dan regenerasi akar tanaman

• Merangsang dan memacu pembelahan sel (Giberelin)

• Memacu perumbuhan mikroba menguntungkan dalam tanah

• Melarutkan deposit hara

• Menekan Patogen tanah/tanaman

Sehingga akan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman menjadi lebih sehat dan hasil panen yang diperoleh akan semakin meningkat dan berlipat ganda.

Dengan demikian, prinsip yang dimiliki oleh Pupuk ABG adalah selain menyehatkan dan meningkatkan pertumbuhan tanaman juga dapat mengembalikan kesehatan tanah/lahan yang sakit karena teracuni oleh pupuk-pupuk kimia buatan serta menjaga tanah/lahan tersebut agar tetap sehat.

Pupuk ABG banyak macamnya. Masing-masing memiliki kegunaan yang berbeda dan saling melengkapi satu sama lain dan.

Macam-macam Pupuk ABG yaitu sebagai berikut:

1. ABG-BIO

ABG-BIO, Pupuk Pengendali Agen Hayati

ABG Bio merupakan pupuk agen hayati yang berbentuk serbuk. ABG Bio mengandung mikroba pengendali patogen di tanah dan mengefisienskan penggunaan pupuk P. Karena mengandung mikroba pengendali patogen, ABG Bio sangat efektif untuk mengatasi berbagai penyakit yang menyerang tanaman, seperti penyakit “PATEK” pada cabai, akar gada pada kubis, busuk daun pada kentang, busuk daun pada tembakau, “HAMA Beureum”/busuk akar/kuning daun pada padi, dan masih banyak lagi.

2. ABG Daun (ABG-D) dan ABG Bunga & Buah (ABG-B)

ABG-DAUN

ABG Daun dan ABG Bunga & Buah merupakan sebuah pupuk yang berbentuki cair. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda namun dapat digunakan untuk semua jenis tanaman mulai dari tanaman sayuran, tanaman pangan, tanaman tahunan, tanaman perkebunan, dan tanaman kehutanan.

ABG Daun digunakan untuk menunjang pertumbuhan vegetatif, yaitu untuk pertumbuhan daun, akar dan batang. Ketika tanaman sudah mau berbunga dan akan berbuah, diganti dengan menggunakan ABG Bunga & Buah.

ABG-Bunga & Buah

ABG Bunga & Buah berfungsi untuk menunjang pertumbuhan generatif yaitu berupa untuk pertumbuhandan perkembangan bunga dan buah, sehingga bunga yang dihasilkan lebih bagus (untuk tanaman hias) dan buah yang dihasilkan sangat bagus baik dari segi kualitas dan kuantitas (untuk tanaman yang menghasilkan buah).

Secara Umum, fungsi dari ABG Daun dan ABG Bunga & Buah adalah sebagai berikut :

  • Dapat meningkatkan efisiensi pemupukan
  • Membantu percepatan pertumbuhan akar, daun dan bunga
  • Memberikan nutrisi/makanan yang dibutuhkan tanaman
  • Merangsang pertumbuhan buah
  • Memperpanjang umur panen
  • Mengurangi Tingkat kerontokan bunga dan buah

3. ABG-Degra

ABG-Degra

ABG-Degra adalah inokulan konsorsium mikroba pengurai (dekomposer) unggul alami sellulotik (bakteri, aktinomycetes, ragi, dan jamur) sehingga sangat efektif untuk menguraikan berbagai limbah organik, yaitu limbah perkotaan (sampah), limbah rumah tangga, limbah pertanian dan peternakan, serta limbah organik lainnya dari berbagai industri. ABG-Degra berbentuk serbuk. Penggunaannya cukup memakai dosis yang rendah saja dan yang terpenting adalah sangat ramah lingkungan.  Berdasarkan kepada fungsi tersebut, ABG-Degra direkomendasikan untuk digunakan dalam pembuatan pupuk kompos. ABG-Degra membantu mempercepat proses pengomposan dan meningkatkan unsur hara hasil pengomposan, sehingga menghasilkan kompos berkualitas tinggi.  Dengan menggunakan ABG-Degra, dalam waktu 1 – 2 minggu kompos sudah matang dan siap digunakan.

4. ABG BIOS Granule (Pengganti pupuk kimia)

ABG-Bios

Merupakan pupuk kompos super berbentuk granule. Setiap 5 kg ABG BIOS mengandung setara dengan 1 ton pupukkandang. Penggunaan ABG BIOS akan meningkatkan ketersediaan hara makro dan mikro (makanan tanaman) dan menjaganya sampai batas minimal, jadi bisa tetap menjaga ketersediaan makan untuk tanaman. Dengan demikian penggunaan ABG BIOS akan mampu meningkatkan kesuburan fisik, kimia, dan aktivitas mikroba tanah sehingga akan mampu meningkatkan kualitas dan kesehatan tanah serta menekan pertumbuhan patogen yang biasa mendatangkan penyakit bagi tanaman. Selain itu pula, penggunaan ABG BIOS akan mampu mengurangi penggunaan pupuk N dan K sampe 50% sehingga akan mampu menghemat penggunaan pupuk anorganik, seperti Urea, ZA, TSP dll.

5. ABG BIO-PLUS

ABG-BIO PLUS

Pupuk ABG-Bio Plus merupakan pupuk organik berbentuk granule seperti ABG-Bios. Perbedaanya, selain berfungsi untuk meningkatkan kesuburan tanah baik secara fisik, biologi, dan kimia juga sangat efektif untuk mengandalikan hama keong mas pada sawah secara alami dan ramah lingkungan sekaligus sebagai pupuk agen hayati yang berperan sebagai penambat N dan pelarut posfat.

6. ABG TERNAK (RUMEN, UT, UD, OMNI)

  • Meningkatkan nafsu makan dan melancarkan pencernaan, kesehatan dan daya tahan terhadap penyakit. Memacu pertumbuhan dan mempercepat masa panen, meningkatkan jumlah susu sapi perah.
  • Meningkatkan kualitas kotoran ternak sebagai pupuk kompos.

7. ABG TABLET

ABG Tablet adalah integrasi pupuk organik dengan pupuk N P K dan biostimulan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan, pertumbuhan vegetatif, generatif dan hasil tanaman (tanaman perkebunan, buah-buahan, tanaman hias, hutan, tanaman industri dan hortikultura) dan dapat merevitalisasi kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah.

Manfaat

  • Sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan fisik, kimia, dan aktivitas mikroba tanah menguntungkan tanah (meningkatkan kualitas dan kesehatan tanah).
  • Sebagai pupuk utama tanaman baik hara makro (N,P,K,Ca,Mg,S) maupum mikro (B, Fe, Zn, Mn, Mo, Cu, Cl) dengan komposisi berimbang.
  • Sebagai biostimulan (zat pemacu tumbuh atau promotor of growth) untuk merangsang pertumbuhan dan regenerasi akar tanaman serta perkembangan tanaman.

DOSIS PEMAKAIAN


8. ABG JOSS

ABG-Joss merupakan perekat untuk meningkatkan efisiensi penyerapan pupuk yang disemprotkan pada tanaman, meningkatkan penggunaan pestisida dan fungisida serta memudahkan penterapan nutrisi/makanan melalui daun sehingga jika dilakukan penyemprotan pupuk atau pestisida pada musim hujan tidak perlua khawatir pupuk dan pestisida yang telah disemprotkan tidak akan tercuci karena akan cepat meresap dan melekat kuat pada permukaan tanaman.

Dosis aplikasi adalah : 3-4 cc/tanki sprayer 15-17 liter (kira-kira 2-3 tetes) kemudian campurkan ABG-Joss secara merata ke dalam tanki yang telah berisi larutan pupuk daun

9. ABG SAWIT

ABG Sawit ddalah pupuk organik, anorganik dan fitohormon (ZPT) pada pembibitan maupun tanaman dilapangan (TBM dan TM) khusus untuk tanaman sawit. ABG Sawit beguna untuk mengatasi gejala kekurangan hara (makro & mikro) dengan cepat dan meningkatkan efisiensi pemupukan, meningkatkan pertumbuahan dan kualitas pembibitan dan hasil (mengurangi kerontokan dan buah kosong) dan meningkatkan kualitas kesuburan tanah.

Selamat Mencoba.

Marketing Staff ABG

Penyakit "Patek" (antraknosa) pada cabe

Penyakit patek (antraknosa) pada cabai diakibatkan oleh cendawan Colletotrichum capsici Sydow dan Colletotrichum gloeosporioides. Penyakit patek banyak mendatangkan kerugian bagi para petani karena telah menghancurkan hasil panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim penghujan. Cendawan penyebab penyakit ini akan berkembang dengan sangat pesat jika kelembaban udara cukup tinggi yaitu lebih dari 80 rH dengan suhu 320C.

Gejala serangan penyakit patek pada cabe yaitu :

  1. Busuk buah (berwarna kuning-coklat seperti terkena sengatan matahari) dan diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam.
  2. Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah.
  3. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang akan menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman.

Cara Pengendalian Penyakit Patek Dengan ABG-Bio

Tindakan Pengobatan

ABG-BIO, Pupuk Pengendali Agen Hayati

  • Untuk tanaman cabai yang sudah terserang patek, terlebih dahulu encerkan satu bungkus ABG Bio ke dalam 50 liter. Tambahkan pula 10 tutup botol ABG-Daun atau Buah ( jika belum berbunga/berbuah gunakan ABG-Daun, jika sudah berbunga/berbuah gunakan ABG-Buah ), 2 bungkus ABG-Bios, dan 2 kg dedak. Kemudian diamkan campuran tersebut selama 30 menit, baru setelah itu disiramkan ke areal perakaran. Setiap tanaman kira-kira memperoleh 1 gelas air minuman mineral.
  • Penyiraman tersebut dilakukan setiap 10 hari sekali diikuti dengan menyemprotkan ABG Daun dengan dosis 3 tutup botol untuk 1 tangki sprayer ke batang dan daun tanaman cabe pada hari yang sama. Kemudian hentikan penggunaan, lalu diganti dengan menyemprotkan ABG Buah ke batang dan daun tanaman cabe dengan dosis 3 tutup botol untuk 1 tangki spryer setiap 10 hari sekali. Maka bakal bunga akan muncul kembali dan tanaman cabe yang telah terserang akan kembali menghasilkan buah untuk dipanen.
  • Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, namun perlu diperhatikan saat melakukan pemusnahan, tangan yang telah menyentuh (sebaiknya diusahakan tidak menyentuh) luka pada tanaman tidak menyentuh tanaman/buah yang sehat, dan sebaiknya dilakukan menjelang pulang sehingga kita tidak terlalu banyak bersinggungan dengan tanaman/buah yang masih sehat.

Tindakan Pencegahan

  • Melakukan perendaman biji dalam air panas (sekitar 55 derajat Celcius) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0.05-0.1%) sebelum ditanam atau menggunakan agen hayati ABG-Bio.
  • Penyiraman fungisida atau agen hayati ABG-Bio pada umur 5 sebelum pindah tanam.
  • Penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae (terong, tomat dll) atau tanaman inang lainnya misal pepaya karena patogen antraknosa pada pepaya dapat menyerang cabai pada pertanaman.
  • Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi.. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya.
  • Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantukan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.
  • Menggunakan jarak tanam yang lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar.
  • Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang tinggi.
  • Penyiangan / sanitasi gulma atau rumput-rumputan agar kelembaban berkurang dan tanaman semakin sehat.
  • Jangan menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terkena lebih dahulu oleh antraknosa / patek, ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi.
  • Pengelolaan drainase yang baik di musim penghujan.

Agen hayati sangat efektif untuk mengatasi penyakit patek pada cabai sebagai suatu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia. Perlu diperhatikan bila menggunakan agen hayati sebaiknya tidak menggunakan pestisida kimia terutama bakterisida, karena akan menyebabkan kematian pada agen hayati tersebut. Agen hayati tersebut dapat diperoleh dalam bentuk jadi, yang dinamakan PUPUK AGEN HAYATI ABG-BIO sehingga lebih mudah  untuk digunakan dan harganya sangat terjangkau. Selamat membuktikan.

1. Persiapan dan pengolahan lahan.
Pengolahan lahan dengan ditraktor atau dicangkul, seperti yang biasa dilakukan, hingga lahan siap tanam. Pada tanah dengan kandungan bahan organik rendah (tidak subur), berikan pupuk organik sebagai pupuk dasar, yaitu campurkan 100 kg ABG-Bios dengan 1 ton pupuk kandang, kemudian sebarkan dalam larikan tanam sekitar (1–7) hari sebelum tanam.

2. Seleksi benih dan penanaman.
a. Seleksi benih. Untuk mendapatkan benih yang bermutu, gunakan benih jagung (hybrida), atau benih lokal yang bersertifikat.
b. Penanaman. Benih ditanam (1–2) benih/lubang, dengan jarak (70×25) cm atau (80×30) cm (jarak antar barisan 70 cm atau 80 cm, dan jarak antar tanaman dalam barisan 25 cm atau 30 cm) dengan kedalaman 2 cm.

3. Pemupukan.
a. Pupuk dasar. Untuk lahan seluas 1 ha, berikan campuran (100-200) kg ABG-Bios + 100 kg Urea + 25 kg SP-36 + 25 kg KCl dan (1-2) bungkus ABG-BIO. Untuk meningkatkan efektivitas, inokulan ABG-BIO diaktifkan terlebih dahulu, dengan cara mencampurkan (1–2) bungkus ABG-BIO dengan (20-25) kg pupuk kandang + 1 kg dedak, kemudian tambahkan air hingga lembab, simpan dalam bentuk gundukan dan tutup dengan karung bekas, biarkan selama (2–3) hari. Kemudian campurkan dengan pupuk tersebut di atas, menjelang aplikasi. Pemupukan dilakukan (7–10) HST, pupuk disebar di sekeliling tanaman, atau di berikan dalam lubang tugal pada radius (5–10) cm dari tanaman, dan selanjutnya di lakukan pembumbunan.
b. Pupuk susulan. Berikan campuran 100 kg ABG-Bios + 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCl. Pemupukan dilakukan setelah penyiangan ke-dua, yaitu sekitar (30-35) HST. Pupuk diberikan di sekeliling tanaman/larikan, kemudian dilakukan pembumbunan.
c. Pupuk ABG. Pemberian pupuk ABG-D, dilakukan pada (10–14) HST, (20-25) HST dengan konsentrasi (1-2) cc/liter air, dengan cara disemprotkan pada tanaman secara merata. Untuk memacu pembentukan bulir dan biji jagung, gunakan ABG-B, dengan konsentrasi (1-2) cc/liter air, diberikan pada 35 HST, 45 HST dan 55 HST

4. Pemeliharaan.
Pemeliharaan meliputi penyiangan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
• Penggunaan pestisida disesuaikan dengan jenis organisme penggangu tanaman.
• Penggunaan ABG-BIO pada pupuk dasar akan meningkatkan ketersediaan hara, kesehatan tanaman, dan menekan perkembangan penyakit tular tanah melalui mekanisme induced resistance.

5. Panen.
• Umur panen adalah (86-96) HST.
• Untuk jagung muda (baby corn), dipanen sebelum bijinya terisi penuh.
• Untuk jagung bakar, dan jagung rebus, dipanen ketika matang susu.
• Untuk beras jagung, tepung dan pakan ternak, dipanen jika sudah matang fisiologis.
• Lakukan penyortiran dan penggolongan, untuk menghindari serangan jamur dan hama, selama dalam penyimpanan dan meningkatkan kualitas panen.

Fokus perhatian pemerintah dan masyarakat untuk menaikkan produksi padi semakin meningkat. Berbagai teknologi intensifikasi padi yang bertumpu pada penggunaan pupuk anorganik dan pestisida terus dikembangkan. Upaya tersebut mampu meningkatkan produksi, tetapi kenaikan hasil tersebut semakin kecil.
Keragaan produktivitas padi saat ini di Indonesia berkisar 3 – 8 ton per hektar. Bahkan di daerah tertentu, pencapaian 5 ton saja merupakan hal yang mustahil. Akibatnya upaya untuk membangun kemandirian pangan akan semakin sulit. Oleh karena itu, perlu dilakukan terobosan teknologi yang mampu menaikkan hasil padi secara spektakuler (Amazing Bio Growth) dengan produktivitas 8 – 15 ton/ha.
Teknologi andalan yang sudah terbukti mampu mancapai hasil tersebut di atas adalah dengan menggunakan Teknologi Peningkatan Produksi Padi (TP2 Padi)-ABG berbasis Organik.
TP2 Padi-ABG merupakan solusi yang tepat dan bertumpu pada pemanfaatkan dan pengelolaan kekuatan sumber daya tanah (soil biologal power) secara terpadu untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi yang ramah lingkungan. Keunggulan utama TPPP-ABG adalah
• Hemat air
• Hemat pupuk anorganik (sekitar 50%)
• Hemat bibit (sekitar 70%)
• Hemat pestsida
• Produktivitas Tinggi (8 – 15 ton/ha) dan panen lebih awal sekitar 5 – 10 hari
• Penerapan yang mudah oleh petani

Keberhasilan dalam program TP2 Padi ABG sangat bergantung pada:
1. Pengolahan lahan
2. Pemilihan benih (seleksi benih) dan penaman bibit yang muda (8 – 15 hari)
3. Teknik penanaman dan pengaturan Jarak Tanam
4. Pengaturan air (sistem irigasi)
5. Pemeliharaan & perawatan
6. Pemupukan

Penerapatan TP2 Padi ABG yang baik dan benar, akan meningkatkan produksi padi mencapai 8 – 15 ton / ha. Target pencapaian program TP2 Padi ABG di lapang pada tingkat petani adalah :
1. Anakan lebih banyak dan sehat (60 – 80 anakan/rumpun)
2. Anakan bermalai lebih banyak (50-70 batang / rumpun)
3. Malai lebih panjang (30 – 35 cm / batang)
4. Jumlah bulir /malai lebih banyak (200-300 butir / batang)
5. Bulir hampa berkurang (< 10%)
6. Hasil akhir meningkat (8-15 ton / hektar)

PENGOLAHAN LAHAN (PEMANFAATAN JERAMI DILAHAN)
Pengolahan lahan dilakukan sekitar 15 hari sebelum tanam
Kebutuhan bahan per 1 hektar sawah :
1. ABG-Bio 160 gram (2 kotak)
2. ABG-Degra 200 gram (2 kotak)
3. ABG-Bios 3 kg
4. Dedak 5 kg
– Larutkan ABG-BIO dan ABG-Degra dalam 50-100 L air, tambahkan dedak dan ABG-BIOS.
– Aduk hingga merata, Biarkan sekitar 2–4 jam.
– Selanjutnya siramkan pada hamparan jerami atau tunggul jerami dengan emrat atau salurkan melalui air irigasi.
– Lahan diolah seperti biasa (traktor atau manual) setelah lahan digenangi air dengan ketinggian sekitar 1-2 cm
– Buat saluran air masing-masing berjarak 3 meter. Saluran air dibuat dengan ukuran lebar 30 cm, dan kedalaman 30 cm.

SELEKSI BENIH
Untuk mendapatkan benih bermutu, lakukan seleksi benih dengan menggunakan larutan garam. Seleksi benih dilakukan sehari sebelum persemaian, atau sekitar 13 hari sebelum tanam.
Kebutuhan bahan per 1 hektar sawah :
1. Benih 7-10 kg
2. Garam secukupnya
Kegiatan :
– Larutkan garam dalam seember air.
Untuk menentukan jumlah garam, masukkan sebutir telur (ayam/itik) kedalam larutan garam. Jika telurnya timbul, maka takaran (jumlah) garam sudah cukup. Air garam siap untuk seleksi benih.
– Masukkan benih dalam larutan tersebut, lalu diaduk
– Benih yang timbul (mengambang) dipisahkan
– Benih yang tenggelam adalah benih yang baik dan untuk disemai
– Benih terpilih (yang tenggelam) di bilas dengan air bersih dan di angin anginkan 1 hari.

PERSEMAIAN
Persemaian dilakukan sekitar 12 hari sebelum tanam.
Kebutuhan bahan :
– ABG-Bios 100-200 gram / M2
Kegiatan :
– Buat bedengan pada lahan dengan ketinggian 10-20 cm dan lebar 2 meter.
– 1-3 hari sebelum penebaran benih, Sebar ABG-BIOS pada permukaan bedengan secara merata.
– Untuk mempermudah transplanting, benih sebaiknya ditebar dalam larikan sedalam 1 cm dan jarak antar larikan sekitar 3 – 5 cm.

PENANAMAN
– Untuk memacu pertumbuhan dan menghindari stress, gunakan bibit atau semai yang berumur sekitar 8–15 hari (yang terbaik yang berumur 12 hari).
– Setiap lubang tanam cukup ditanam 1-2 batang bibit
– Penanaman dilakukan dengan kedalaman sekitar 1 cm, dan akar dengan batang semai membentuk huruf L.
– Jarak tanam yang dianjurkan adalah 30 cm X 30 cm.
– Setelah penanaman, lakukan penggenangan dengan ketinggian air 1–2 cm sekitar 2 jam ( maksimum 1 hari ).
– Selanjutnya buang air, dan pertahankan tanah dalam kondisi lembab.Pertahankan lahan dalam kondisi lembab (Jangan kering & Jangan terendam air)

PEMUPUKAN
1. Pupuk Dasar (Sebelum pencaplakan).
Kebutuhan bahan per 1 hektar sawah :
1. ABG-Bios 300 kg
2. Urea 100 kg
3. SP-36 50 kg
4. KCL 50 kg
Sebarkan secara merata, campuran ABG-Bios, Urea, SP-36 dan KCl pada petakan lahan yang telah siap tanam.

2. Pupuk Susulan
a. 15 HST (ABG-Daun)
Semprotkan ABG-D dengan konsentrasi 2-3cc per liter air
b. 25 HST (ABG-Daun)
Semprotkan ABG-D dengan konsentrasi 2-3cc per liter air
c. 35 HST
Kebutuhan bahan per 1 hektar sawah :
1. ABG-Bios 100 kg
2. Urea 100 kg
3. SP-36 25-50 kg
4. KCL 50-100 kg
5. ABG-D 2-3 cc / Liter air
– Tebarkan campuran ABG-BIOS dengan Urea, SP-36 dan KCl
– Penebaran dilakukan pada saat lahan retak-retak.
– Semprokan larutan ABG-D pada daun
– Setelah pemupukan lakukan penggenangan dengan ketinggian air 1–2 cm selama 1 – 2 jam.
d. 45 HST
Semprotkan ABG-B dengan konsentrasi 2-3cc per liter air
e. 55 HST
Semprotkan ABG-B dengan konsentrasi 2-3cc per liter air
f. 65 HST
Semprotkan ABG-B dengan konsentrasi 2-3cc per liter air

PENGATURAN AIR (SISTEM IRIGASI)
Keberhasilan TP2 Padi-ABG juga sangat tergantung pada pengaturan tata air dan udara. Hal ini untuk membangkitkan kekuatan biologis tanah dan pada pemanfaatan potensi tanaman padi.
– Setelah penanaman, genangi lahan dengan air 1 – 2 cm selama 1 – 2 jam (maksimum 1 hari) Kemudian buang airnya. Pertahankan lahan dalam kondisi lembab.
– Setelah tanah retak-retak ( 1 – 2 cm), lakukan penggenangan kembali hingga 1 – 2 cm selama 1 – 2 jam (maksimum 1 hari). Kemudian buang airnya dan pertahankan lahan dalam kondisi lembab. Proses ini di ulang hingga tanaman berbunga.
– Saat berbunga, lakukan penggenangan dengan ketinggian air 1 – 2 cm hingga padi masak susu.
– Setelah masak susu (sekitar 20 – 25 hari menjelang panen), lakukan pengeringan lahan

PEMELIHARAAN / PERAWATAN
Pemeliharaan meliputi penyiangan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
a. Untuk mengendalikan gulma lakukan penyiangan pada 10 HST, 20 HST dan 30 HST. Bila tenaga kerja sulit, dianjurkan menggunakan herbisida selektif (pratumbuh dan pasca tumbuh).
b. Sedangkan untuk mengendalikan OPT, lakukanlah penyemprotan dengan pestisida (dilakukan hanya bila diperlukan)

1. Persiapan dan pengolahan lahan.
Pengolahan lahan dengan ditraktor atau dicangkul, seperti yang biasa dilakukan, hingga lahan siap tanam. Pada tanah dengan kandungan bahan organik rendah (tidak subur), berikan pupuk organik sebagai pupuk dasar, yaitu campurkan 100 kg ABG-Bios dengan 1 ton pupuk kandang, kemudian sebarkan dalam larikan tanam sekitar (1–7) hari sebelum tanam.

2. Seleksi benih dan penanaman.
a. Seleksi benih. Untuk mendapatkan benih yang bermutu, gunakan benih jagung (hybrida), atau benih lokal yang bersertifikat.
b. Penanaman. Benih ditanam (1–2) benih/lubang, dengan jarak (70×25) cm atau (80×30) cm (jarak antar barisan 70 cm atau 80 cm, dan jarak antar tanaman dalam barisan 25 cm atau 30 cm) dengan kedalaman 2 cm.

3. Pemupukan.
a. Pupuk dasar. Untuk lahan seluas 1 ha, berikan campuran (100-200) kg ABG-Bios + 100 kg Urea + 25 kg SP-36 + 25 kg KCl dan (1-2) bungkus ABG-BIO. Untuk meningkatkan efektivitas, inokulan ABG-BIO diaktifkan terlebih dahulu, dengan cara mencampurkan (1–2) bungkus ABG-BIO dengan (20-25) kg pupuk kandang + 1 kg dedak, kemudian tambahkan air hingga lembab, simpan dalam bentuk gundukan dan tutup dengan karung bekas, biarkan selama (2–3) hari. Kemudian campurkan dengan pupuk tersebut di atas, menjelang aplikasi. Pemupukan dilakukan (7–10) HST, pupuk disebar di sekeliling tanaman, atau di berikan dalam lubang tugal pada radius (5–10) cm dari tanaman, dan selanjutnya di lakukan pembumbunan.
b. Pupuk susulan. Berikan campuran 100 kg ABG-Bios + 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCl. Pemupukan dilakukan setelah penyiangan ke-dua, yaitu sekitar (30-35) HST. Pupuk diberikan di sekeliling tanaman/larikan, kemudian dilakukan pembumbunan.
c. Pupuk ABG. Pemberian pupuk ABG-D, dilakukan pada (10–14) HST, (20-25) HST dengan konsentrasi (1-2) cc/liter air, dengan cara disemprotkan pada tanaman secara merata. Untuk memacu pembentukan bulir dan biji jagung, gunakan ABG-B, dengan konsentrasi (1-2) cc/liter air, diberikan pada 35 HST, 45 HST dan 55 HST

4. Pemeliharaan.
Pemeliharaan meliputi penyiangan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
• Penggunaan pestisida disesuaikan dengan jenis organisme penggangu tanaman.
• Penggunaan ABG-BIO pada pupuk dasar akan meningkatkan ketersediaan hara, kesehatan tanaman, dan menekan perkembangan penyakit tular tanah melalui mekanisme induced resistance.

5. Panen.
• Umur panen adalah (86-96) HST.
• Untuk jagung muda (baby corn), dipanen sebelum bijinya terisi penuh.
• Untuk jagung bakar, dan jagung rebus, dipanen ketika matang susu.
• Untuk beras jagung, tepung dan pakan ternak, dipanen jika sudah matang fisiologis.
• Lakukan penyortiran dan penggolongan, untuk menghindari serangan jamur dan hama, selama dalam penyimpanan dan meningkatkan kualitas panen.

1. Persiapan dan pengolahan lahan.
Lakukan pengolahan lahan dengan membersihkan dari sisa-sisa akar atau rumput-rumputan dengan cara dicangkul atau ditraktor, seperti yang biasa dilakukan, hingga lahan siap tanam, dengan menggunakan jarak tanam 70 cm x 60 cm (jarak antar barisan 70 cm, dan jarak antar lubang dalam barisan 60cm) pola zig – zag. Selanjutnya dibuat bedengan dengan lebar 120 cm, panjang (6-12) m, dan saluran air selebar 30 cm dan dalam 30 cm. Untuk mengurangi serangan penyakit dan menekan pertumbuhan gulma dianjurkan menggunakan mulsa (penutup tanah) plastik atau jerami. Pemasangan mulsa dilakukan setelah pemberian pupuk dasar.

2. Persemaian dan penanaman.
Sebelum penanaman, benih disemaikan terlebih dahulu dalam polybag ukuran (4×6) cm, atau contong daun pisang (kokeran) dengan media tanah + pupuk kandang dengan perbandingan 3:1. Untuk mencegah terjadinya penyakit rebah semai (dumping off), layu bakteri dan untuk meningkatkan ketahanan bibit terhadap serangan penyakit tular tanah (penyakit layu), gunakanlah campuran (1-2) bungkus ABG-BIO + (20–25) kg media persemaian di atas (campuran tanah dengan pupuk kandang). Kemudian siram dengan air hingga lembab, simpan dalam bentuk gundukan dan tutup dengan karung bekas, biarkan selama (2-3) hari, baru dipakai. ABG-BIO dapat juga diberikan dalam bentuk larutan, yaitu larutkan 1 bungkus ABG-BIO + 0,5 kg dedak + 2 tutup ABG-B, dalam (5-10) liter air, aduk secara merata dan biarkan selama (2-4) jam, kemudian siramkan pada media persemaian sekitar (1–2) hari sebelum penyemaian. Setelah bibit berumur sekitar (21-30) hari dapat dilakukan pindah tanam. Penanaman menggunakan (1-2) bibit/lubang tanam.

3. Pemupukan.
3.1. Budidaya dengan menggunakan mulsa.
a. Pupuk dasar. Pupuk yang digunakan, untuk lahan seluas 1 ha, adalah campuran (2–5) ton pupuk kandang + 200 kg ABG-Bios + (20-25) kg campuran media semai dan ABG-BIO hasil pengaktifan (seperti tersebut di atas) + (100–150) kg Urea + (100–150) kg SP-36 + (50–100) kg KCl. Pupuk disebar merata pada bedengan (diaduk) atau diberikan dalam larikan tanam dengan kedalaman 5 cm. Aplikasi ABG-BIO dapat juga dilakukan dalam bentuk larutan, yaitu larutkan (1–2) bungkus ABG-BIO + (1–2) kg dedak + 2 kg ABG-Bios + (5–10) tutup ABG-D, dalam (50-100) liter air, aduk secara merata dan biarkan selama (2–4) jam, kemudian siramkan pada bedengan dengan emrat secara merata. Selanjutnya dilakukan penutupan dengan mulsa plastik dan pembuatan lubang tanam sesuai dengan jarak tanam di atas. Penanaman dilakukan (1–3) hari setelah pemasangan mulsa.
a. Pupuk susulan. Pupuk susulan sebaiknya diberikan dalam bentuk larutan, yaitu dengan melarutkan pupuk Urea, SP-36 (harus ditumbuk dulu), dan KCl, atau pupuk majemuk NPK (dengan formula 12-12-17) + pupuk organik ABG-Bios. Pemberian dilakukan dengan sistem cor mulai 30 HST, yaitu larutkan 1 kg Urea + 1 kg SP-36 + 1 kg KCl, atau gunakan 2 kg pupuk majemuk NPK (dengan formula 12-12-17) + 2 kg ABG-Bios + (5–10) tutup ABG-B, dalam 100 liter air (aduk secara merata). Lalu siramkan sekitar 200 cc/tanaman (satu gelas aqua) pada perakaran tanaman, setiap interval (7–10) hari.
c. Pupuk ABG. Lakukan penyemprotan dengan ABG-B, dengan konsentrasi (2–3) cc/liter air, pada 20 HST, 30 HST, 40 HST, 50 HST dan 60 HST. Untuk mencegah penyakit layu dan mengurangi serangan penyakit lainnya, berikan (1–2) bungkus ABG-BIO + (5–10) tutup ABG-B, dalam (50–100) liter air, aduk secara merata dan biarkan sekitar (2-4) jam. Kemudian siramkan sebanyak (25–50) cc/tanaman, pada perakaran tanaman setiap 2 minggu.

3.2. Budidaya konvensional (tanpa mulsa).
a. Pupuk dasar. Pupuk yang digunakan, untuk lahan seluas 1 ha, adalah campuran (2–5) ton pupuk kandang + (20-25) kg campuran media semai dan ABG-BIO hasil pengaktifan (seperti tersebut di atas). Pupuk tersebut disebar merata pada bedengan atau diberikan dalam lubang tanam (1–5) hari sebelum tanam. Aplikasi ABG-BIO dapat dilakukan dalam bentuk larutan, yaitu larutkan (1–2) bungkus ABG-BIO + (1–2) kg dedak + 2 kg ABG-Bios + (5–10) tutup ABG-D, dalam (50-100) liter air, setelah diaduk merata, biarkan (2–4) jam, kemudian siramkan pada bedengan dengan emrat secara merata. Setelah penanaman berikan campuran 150 kg ABG-Bios + (100–150) kg Urea + (100–150) kg SP-36 + (50–100) kg KCl. Pupuk diberikan setelah tanam, dalam lubang tugal sedalam 5 cm pada radius10 cm dari tanaman.
b. Pupuk susulan. Sebagai pupuk susulan gunakan campuran 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 100 kg KCl + (100–200) kg ABG-Bios, atau sekitar (15–20) gram/tanaman, diberikan (30–35) HST, atau campuran 200 kg pupuk majemuk NPK (dengan formula 12-12-17) + (100–200) kg ABG-Bios. Pupuk ditempatkan di sekeliling tanaman, dan selanjutnya dilakukan pembumbunan.
c. Pupuk ABG. Pemberian pupuk ABG-D, dengan konsentrasi (2-3) cc/liter air, dilakukan pada (10–14) HST, (20-25) HST, (30-35) HST, dengan cara disemprotkan pada tanaman secara merata. Sedangkan ABG-B, dengan konsentrasi (2-3) cc/liter air, diberikan pada 35 HST, 45 HST, 55 HST, 65 HST, dan 75 HST. Untuk mencegah penyakit layu dan mengurangi serangan penyakit lainnya (busuk buah), serta merangsang pertumbuhan akar, berikan ABG-BIO dengan cara melarutkan (1–2) bungkus ABG-BIO + 1 kg dedak + 2 kg ABG-Bios + (5–10) tutup ABG-B, dalam (50–100) liter air, aduk secara merata dan biarkan selama (2-4) jam. Kemudian siramkan sebanyak (25–50) cc/tanaman pada perakaran tanaman setiap 2 minggu.
a. Pemupukan dengan ABG-Tablet. Pupuk dasar diberikan (1–3) hari sebelum penanaman. Sekitar (1–7) hari setelah penanaman berikan (2–3) tablet ABG-Tablet/tanaman. Selanjutnya hanya dikombinasikan dengan ABG-D dan ABG-B sebagai pupuk susulan seperti di atas, tanpa menggunakan pupuk lainnya.

4. Pemeliharaan.
Pemeliharaan meliputi penyiangan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
• Penyiangan (weeding) dilakukan (2–3) kali dengan menyingkirkan gulma di sekitar daerah perakaran.
• Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida sesuai dengan yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit.

5. Panen.
• Panen pertama dilakukan setelah tanaman berumur (110-120) HST.
• Panen kedua dan seterusnya setiap (2-3) hari, dengan jumlah panen bisa mencapai (30-40) kali atau lebih, tergantung pada ketinggian tempat dan cara budidayanya. Setelah pemetikan ke-3, semprotlah dengan ABG-B.
• Buah dipanen tidak terlalu tua ( kemasakan 80-90% ).

MOL Buah-buahan
Bahan-bahan:
1. Buah-buahan yang sudah busuk. Bisa buah apa saja: pepaya, pisang, mangga, apel, salak, dll. Sebanyak 5 kg
2. Air kelapa 10 butir.
3. Gula jawa 1 kg.
Cara Pembuatan:
1. Limbah buah-buahan dihaluskan. Bisa dengan cara ditumbuk atau diparut.
2. Masukkan ke dalam dalam tempat (drum)
3. Tambahkan air kelapa.
4. Tambahkan gula.
5. Semua bahan diaduk sampai tercampur merata.
6. Tutup drum dengan penutu. Beri lubang untuk aerasi. Lubang aerasi ini bisa menggunakan selang agar tidak dimasukki oleh lalat atau serangga lain.
7. Semua bahan kemudian difermentasi selama 2 minggu sebelum digunakan.
Penggunaan:
1. MOL ini bisa digunakan untuk pengomposan maupun untuk penyemprotan ke tanaman.
2. Untuk pengomposan: encerkan larutan fermentasi sebayak 5 xnya.
3. Kemudian disemprotkan ke bahan-bahan yang akan dikomposkan.
4. Untuk penyemprotan tanaman: larutkan larutan fermentasi sebanyak 30 kali.
5. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari atau sore hari ke permukaan daun.
6. Penyemprotan dilakukan berselang 2 minggu.

MOL Nasi
Bahan:
1. Nasi segar, bukan nasi yang sudah basi
2. Seresah bambu atau potongan bambu yang sedang melapuk. Bukan yang masih segar dan baru diambil dari pohonnya.
3. 5 liter Air bersih atau air cucian beras yang telah diberi gula merah sebanyak 3-5%.
Alat/Tempat:
Kotak kayu atau tempat lain yang cukup lembab dan terlindung. Bisa pakai kardus juga.
Cara Pembuatan:
1. Masukkan seresah bambu yang sedang melapuk ke dalam kotak.
2. Masukkan nasi ke dalam kotak.
3. Kotak didiamkan di tempat yang sejuk, lembab, dan terlindung dari sinar matahari selama seminggu.
4. Ambil nasi yang telah ditumbuhi jamur dan masukkan ke dalam air beras yang telah diberi gula merah.
5. Larutkan nasi tersebut di dalam air beras.
6. Simpan di dalam botol/jerigen. Tutup jeringen diberi selang untuk aerasi. Ujung selang dimasukkan ke dalam botol berisi air. Tambahkan alkohol/sprirtus/kaporit/pemutih pakaian ke dalam air botol terebut untuk menjaga agar tidak terkontaminasi.
7. Biarkan selama satu minggu. Setelah satu minggu MOL bisa dipakai.

MOL Nasi 2
Pembuatan MOL ini aku peroleh dari petani di Brastagi, Medan. Di sana adalah daerah pertanian yang cukup subur. Dan mereka secara turun temurun telah membuat MOL dengan cara mereka sendiri. Cara pembuatan MOL yang mereka lakukan adalah sebagai berikut.
1. Sisa nasi dipendam dalam tanah.
2. Setelah beberapa hari, nasi diambil lagi,
3. Nasi tersebut diencerkan dengan air dan digunakan untuk mengkomposkan bahan-bahan organik.
Bahan organik yang telah dicampur dengan nasi tadi kemudian dipendam selama beberapa hari sampai hancur dan lumat seperti tanah. Kompos yang telah jadi ini dapat langsung digunakan untuk memupuk tanaman.

MOL Sabut Kelapa
Resep MOL ini istimewa dibandingkan dengan resep-resep MOL yang lain, karena kaya akan unsur K. Bahan dan cara pembuatannya juga suangat mudah zekali.
Bahan-bahan:
1. Sabut Kelapa
2. Air bersih
Cara pembuatan:
1. Masukkan sabut kelapa ke dalam drum. Jangan penuh-penuh.
2. Masukkan air sampai semua sabut kelapa terendam air.
3. Drum ditutup dan dibiarkan selama dua minggu.
4. Air yang sudah berwarna coklat kehitaman digunakan sebagai MOL.
5. Selain sabut kelapa bisa juga ditambahkan dengan jerami kering.
6. Penambahan jerami bisa bermanfaat sebagai pestisida nabati.
Pemakaian:
MOL bisa disiramkan atau disemprotkan ke tanaman. Cara pemakaian sama seperti MOL-MOL yang lain.

MOL Gedebok Pisang
Bahan-bahan: Perbandingan bahan adalah 1:1, seperti contoh di bawah ini
1. Batang pisang 1 kg
2. Nira 1 liter atau bisa diganti dengan gula jawa 1,5 ons.
Untuk produksi yang lebih banyak tinggal dikalikan kelipatannya.

Cara pembuatan:
1. Batang pisang dipotong-potong. Jangan diparut/ditumbuk/dicincang.
2. Campurkan batang pisang dengan 3/4 nira.
3. Masukkan ke dalam baskom dan atur agar memadat.
4. Tambahkan sisa nira lagi.
5. Tutup rapat dan dibiarkan selama dua minggu.
6. Setelah dua minggu diperas dan diambil airnya.

Pemakaian:
1. Untuk pupuk daun MOL diencerkan dengan perbandingan 1:1000.
2. Disemprotkan ke seluruh bagian tanaman di pagi hari atau sore hari.

MOL Buah-Buahan 2
Alat yang diperlukan :
1. Toples ukuran 10 lt / lebih
2. Selang ukuran kecil
3. Botol bekas air kemasan (600ml)
Cara pembuatan :
Beri lubang pada bagian atas tutup toples dan tutup botol bekas air kemasan sesuai besar ukuran selang, setelah itu masukan selang pada tutup toples dan tutup botol bekas air kemasan, untuk selang pada tutup botol bekas air kemasan selang dimasukan cukup dalam hingga hampir dasar botol.

Bahan-bahan :
1. Buah Pepaya 2.5 Kg
2. Air Kelapa muda 2.5 lt
3. Air bekas cucian beras (air leri) 2.5 lt
4. Larutan gula merah / gula putih 2.5 lt

Langkah pertama pembuatan MOL adalah proses pengambilan daging buah pepaya (kulit dan bijinya tidak digunakan), potong kecil-kecil untuk mempermudah proses penumbukan.kemudian lakukan penumbukan / diblender hingga menjadi seperti bubur.
Langkah ketiga campurkan bahan-bahan pembuat MOL (pepaya, air kelapa, air leri dan larutan gula merah / gula pasir) dalam wadah toples, tutup rapat dan beri air pada botol bekas air kemasan (tidak penuh, sisakan sebagian untuk udara) dengan maksud agar mikro organisme dapat bernafas, sehingga mampu berkembang dengan baik.
Terakhir simpan MOL tersebut ditempat yang teduh / tidak terkena sinar matahari secara langsung, setelah 15 hari MOL sudah jadi. MOL yang sudah jadi berciri : ada gelembung / buih putih dipermukaan dan jika dicium berbau seperti tape / penyeum.

MOL Keong Mas
Keong mas juga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan MOL (mikroorganisme lokal) yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman padi. Pertama keong mas harus dikumpulkan terlebih dahulu. Agar keong mas mudah dikumpulkan, keong mas perlu dipancing dulu dengan umpan. Umpan keong mas bisa menggunakan batang pisang atau batang pepaya yang dipotong-potong. Sebarkan batang pepaya ini di pinggir-pinggir sawah, tujuannya adalah agar mudah untuk mengambil keong mas-nya. Tak perlu waktu yang lama, sore hari atau pagi harinya keong mas sudah berkumpul di batang pepaya ini. Kita tinggal mengambilnya saja. Keong Mas yang berkumpul di batang pepaya Keong mas dikumpulkan dengan ember.
Setelah itu bisa kita manfaatkan untuk pembuatan MOL. Caranya adalah sebagai berikut:
Bahan:
4. 1 kg keong mas
5. 1/4 kg gula jawa, bisa juga menggunakan molases jika ada atau buah satu buah maja.
6. Air kelapa dua butir
Cara Pembuatan:
8. Keong mas ditumbuk sampai halus.
9. Tambahkan gula jawa hingga tercampur merata.
10. Masukkan ke dalam ember atau drum, tambahkan air kelapa dan aduk sampai merata.
11. Tutup rapat ember dengan plastik.
12. Untuk aerasi gunakan selang plastik. Ujung luar selang plastik dicelupkan ke air di dalam botol yang telah diberi cairan pemutih. Fungsi dari cairan pemutih ini adalah untuk menghindari kontaminasi dari luar.
13. Larutan ini dibiarkan selama kurang lebih 1-2 minggu.
Pemakaian:
Mol Keong mas bisa digunakan untuk penyemprotan tanaman atau digunakan untuk pembuatan kompos. Cara aplikasinya sama seperti mol-mol yang lain.
Untuk penyemprotan ke tanaman:
1. 14 liter air ditambahkan dengan 1/2 liter mol.
2. Aduk hingga tercampur merata.
3. Semprotkan pada tanaman pada pagi atau sore hari.
4. Penyemprotan diulang setiap 2 minggu sekali.
Untuk pembuatan kompos:
1. Mol dilarutkan sebanyak 5 x, jadi 1 liter Mol ditambah dengan 4 liter air hingga volumenya 5 liter.
2. Tambahkan gula kurang lebih 100 gr atau 1 ons dan diaduk sampai tercampur merata lalu siramkan larutan mol ini untuk pembuatan kompos.